BEST OFFER EVER

Fee Buy-Sell: 0,15%-0,25% sampai dengan 0,08%-0,18% minimum deposit 10 JUTA RUPIAH

20140313

Market Outlook

Jika Anda berencana membeli mobil, belilah MPMX! 

Beberapa minggu yang lalu, saya membaca advertorial yang menggambarkan bahwa  mesin mobil membutuhkan perawatan ekstra jika  dikemudikan  di kondisi jalanan yang macet. Advertorial  tersebut memperkenalkan pelumas baru yang khusus dirancang untuk melindungi mesin mobil dari kerusakan yang dikarenakan kemacetan. Mengingat harga mobil di Indonesia yang tinggi (harga Toyota Camry di Indonesia lebih tinggi dua kali di AS), akan lebih bijaksana bagi pemilik mobil untuk membayar lebih sedikit untuk pelumas daripada membayar lebih untuk perbaikan.

Meskipun kami  tidak memiliki angka resmi untuk industri minyak mesin,  kita dapat melakukan matematika sederhana untuk mengetahui pangsa pasar. Mari kita berasumsi bahwa setiap mobil dan sepeda motor  perlu mengganti oli mesin setiap tahun. Jumlah oli mesin yang digunakan per kunjungan ke bengkel adalah 4 liter untuk mobil dan 1 liter untuk sepeda motor. Mengingat jumlah mobil dan sepeda motor  di Indonesia telah mencapai 17 juta  dan 78  juta masing-masing,  maka  jumlah total oli  mesin yang dikonsumsi per tahun
sebanyak 146 juta liter.

Jika hal ini terdengar menarik, lihatlah Mitra Pinasthika Mustika (MPMX). MPMX merupakan  satu-satunya perusahaan  publik  di Indonesia yang memiliki anak perusahaan yang memproduksi pelumas dan oli mesin. Anak perusahaannya, Federal Karyatama (FKT) memproduksi minyak pelumas dengan merek "Federal
Oil". Volume penjualan FKT telah tumbuh pada CAGR sebesar 7,6% dan menurut pandangan kami tren ini akan terus didorong oleh peningkatan jumlah mobil dan  kepemilikan mobil di Indonesia. MPMX go public tahun lalu  pada bulan  Mei  dengan harga Rp1,500 per saham. Pada perdagangan terakhir kemarin, saham diperdagangkan pada Rp1,180 per saham, yang mana berada di bawah harga IPO. Diperdagangkan pada P/E 10x, kami melihat saham MPMX cukup  menarik  dengan  ROE-nya  yang  berada di atas 20% selama 5 tahun terakhir.




Local flashes 

SMGR: Semen Gresik Bersiap Tebar Dividen.  PT Semen Indonesia Tbk (SMGR)
berencana membagikan dividen tahun buku 2013 dengan rasio 40%-50% dari total
laba bersih. Artinya, total dividen sekitar Rp 2,14 triliun hingga Rp 2,68 triliun dari total
laba bersih tahun 2013. Agung Wiharto, Sekretaris Perusahaan SMGR mengatakan,
agenda tersebut akan diusulkan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 25
Maret mendatang. (Kontan)

WIKA: Kinerja positif, WIKA siap tebar dividen. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
membukukan kinerja yang positif tahun 2013 lalu. Laba bersih emiten pelat merah
tersebut naik 19,73% menjadi Rp 569,94 miliar. Sebagai perusahaan publik, pembagian
dividen memang perlu dilakukan untuk memberikan kompensasi bagi para pemegang
saham. Tahun lalu, WIKA juga telah membagikan dividen atas hasil kinerja tahun buku
2012. (Kontan)

BIPI: Benakat Integra Jamin Pinjaman Anak Usaha.  PT Benakat Integra Tbk. (BIPI)
bertindak sebagai penjamin sehubungan dengan pinjaman senilai US$50 juta yang
dipinjam anak usahanya, yaitu Eastern Core Ltd, dari Kingswood Union Corporation.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Benakat Integra Michael Wong seperti dikutip dari
keterbukaan informasi, Rabu (12/3/2014). (Bisnis Indonesia)

SIDO: Laba Bersih Sido Muncul 2013 Naik 4,74%. PT.Industri Jamu dan Farmasi Sido
Muncul Tbk. (SIDO) membukukan laba bersih Rp405,9 miliar sepanjang 2013 atau
tumbuh tipis 4,74% dibandingkan dengan posisi 2012 sebesar Rp387,5 miliar. Meskipun
demikian, laba bersih per saham dasar turun dari Rp342,95 menjadi Rp27 setelah
perusahaan asal Semarang, Jawa Tengah tersebut melepas saham perdana (initial
public offering/IPO) pada Desember 2013 lalu. (Bisnis Indonesia)

JSMR: Jasa Marga Proyeksikan Laba Bersih 2014 Rp 1,2 Triliun. Emiten jalan PT Jasa
Marga Tbk (JSMR) memproyeksikan laba bersih di kisaran Rp 1,2 triliun tahun ini. Angka
tersebut lebih rendah dari realisasi laba bersih tahun 2013 lalu. (Kontan)

LEAD: Logindo Cetak Kenaikan Laba 85,7% pada 2013. Logindo Samudramakmur Tbk
(LEAD), penyedia layanan transportasi laut, membukukan kenaikan laba sebesar  
85,77% menjadi US$16,46 juta pada 2013, dibandingkan dengan tahun sebelumnya
sebesar US$8,86 juta. Berdasarkan laporan  keuangan perusahaan, Rabu (12/3/2014),
pendapatan naik menjadi US$59,01 juta dari US$34,09 juta pada tahun sebelumnya.
(Bisnis Indonesia)

GIAA: Garuda Perkuat Segmen Penumpang Institusi.  PT Garuda Indonesia Tbk
menggandeng pemerintah daerah se-Sulawesi Selatan untuk memperkuat segmen
penumpang institusi. Maskapai penerbangan pelat merah itu siap memberikan diskon
hingga 10% bagi pegawai negeri sipil. Vice President Eastern Garuda Rosyinah Manaf
mengemukakan kerja sama tersebut bersifat jangka panjang serta untuk memberikan
kemudahan bagi seluruh pemda di Sulsel dalam hal memperoleh transportasi udara.
(Bisnis Indonesia)



Technical analysis 

Sentiment 
Pengumuman BI rate pada tanggal 13 Maret 2014 yang berpeluang tetap bahkan bisa menjadi 7,25% per tahun memberikan sentiment positive pada IHSG namun perlu berhati-hati jika ternyata kebalikannya yang terjadi maka IHSG akan berpeluang turun kembali memasuki fase bearish.

Technical View 

Daily Chart 
Trend IHSG saat ini telah membentuk 4 gap yang dapat kita lihat pada figure 1. Dimana panah biru merupakan gap yang belum tertutupi oleh IHSG sehingga dengan banyaknya gap ini membuat potensi koreksi hingga gap terdekat dapat terjadi yang ditunjukkan oleh panah merah. Namun peluang kenaikan dapat saja terjadi mengingat tekanan jual pada hari kemarin tidaklah besar secara volume peningkatan.



Intraday Chart 
Pada perdagangan kemarin yang terlihat pada figure 2, kita bisa melihat bagaimana IHSG di awal perdagangan sempat mengalami penurunan hingga 4,668 namun sempat menguat hingga 4,698 tetapi gagal bertahan dan ditutup di level 4,684. Hal ini menandakan koreksi yang ada mempunyai garis level support di garis hitam pada awal pembukaan IHSG.
Dari kedua analisa kita diatas dapat kita simpulkan bahwa peluang kenaikan terbatas
pada daily chart dan intraday chart dapat saja terjadi.




Stocks on our focus list 

PT London Sumatera Tbk (LSIP) 
Saham  LSIP  sejak tanggal 03 Januari 2013 hingga tanggal 20 Agustus 2013 telah mengalami penurunan sebanyak 60% yang berlangsung selama 154 hari dari harga 2,525 hingga 960. Namun berhasil berputar arah hingga mengalami kenaikan sebesar 135% pada tanggal 10 Maret 2014. Ini menandakan saham LSIP yang masih berada uptrend.

Pada tanggal 05 Maret 2014 saham LSIP mengalami foreign flow sebesar 49M, dengan broker  UBS Securities Indonesia  yang melakukan pembelian sebanyak   82,000  lot average harga  2,090  dan disusul oleh  Merrill Lynch  Indonesia sebanyak  79,586  lot dengan average harga di  2,090.  Sehingga dengan data ini diharapkan melakukan pembelian dibawah harga average.

Masa kerontokan keuntungan emiten perkebunan berlangsung sepanjang 2013 kemarin. Laba PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) pun merosot 30,7% dari Rp 1,11 triliun menjadi Rp 769,49 miliar. Laba per sahamnya pun melorot dari Rp 164 ke posisi Rp 113. Padahal, penjualan LSIP cuma turun tipis 1,9% dari Rp 4,21 triliun menjadi Rp 4,13 triliun. Di situ, penjualan ke pihak ketiga naik 9,7% ke posisi Rp 2,25 triliun. Kemudian penjualan ke pihak berelasi malah turun 13% menjadi Rp 1,87 triliun. Pesona PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) tak selamanya memudar. Prospek emiten kebun milik Grup Salim itu di tahun ini bisa terangkat karena kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (CPO).

Leonardo Henry Gavaza, analis Bahana Securities menuturkan, LSIP akan terbantu kenaikan harga CPO yang ditaksir akan menguat secara rata-rata 2% di kuartal I 2014. Proyeksi positif ini diperkuat pula oleh hasil survei Standard Chartered terhadap delapan perusahaan CPO di Indonesia dan Malaysia pada Desember 2013.



PT Adhi Karya Tbk (ADHI) 
Saham ADHI sejak 03 Juni 2013 berada pada 4,000 dan mengalami penurunan hingga 1,425 pada tanggal 08 Januari 2013 selama 145 hari. Dan sejak itu mampu naik 83% hingga kini dengan menempuh 44 hari. Ini menunjukkan kekuatan trend saham ADHI yang kuat.

Pada tanggal  17-18 Ferbruari  2014 saham  ADHI mengalami foreign  Inflow terbesar hingga Rp  52 M net buy, dengan broker Macquarie Capital securities Indonesia yang melakukan pembelian  sebanyak   152,394 lot average harga 2,166  dan disusul oleh Mandiri Sekuritas  Indonesia sebanyak  113,649  lot dengan average harga di 2,170. Dengan data diatas diharapkan agar mencoba untuk melakukan strategi  buy on
weaknes di level 2,350.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) akan mengembangkan lini bisnisnya ke bidang penyelenggaraan sarana dan prasarana perkeretaapian dan hotel. Diharapkan, ekspansi dalam bidang usaha baru itu akan menambah recurring income (pendapatan berkelanjutan) perusahaan pelat merah tersebut. Manajemen Adhi Karya dalam keterangan tertulisnya menjelaskan,  ekspansi pada sektor baru itu memungkinkan perseroan untuk mengerjakan proyek monorel. Saat ini, kota-kota besar sudah terdesak akan kebutuhan transportasi massal.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI), emiten konstruksi, memproyeksikan pendapatan dari usaha engineering, procurement, and construction (EPC) tahun ini turun seiring kebijakan perusahaan mengerem pencarian kontrak baru untuk proyek EPC.

M.  Aprindy, Corporate Secretary Adhi Karya menyebutkan pihaknya tahun ini mengurangi target pendapatan usaha (revenue) dari sektor EPC sebesar 22,2% menjadi Rp 1,4 triliun, dari realisasi tahun lalu sebesar Rp 1,8 triliun.



PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) 
Saham  PTBA telah  mengalami penurunan sebanyak 33% sejak harga 14,100 pada tanggal 21 Oktober 2013 hingga harga 8,975 pada tanggal 13 Januari 2014. Dan hanya berhasil mengalami rebound sebesar 6% di 10,100 pada tanggal 23 Januari 2014. Tetapi tak mampu bertahan dan kembali  koreksi hingga ke harga 9,325. Ini memberikan sinyal trend kenaikan yang lemah pada saham PTBA.

Pada tanggal 16 MJanuari 2014 saham PTBA mengalami foreign outflow hingga Rp 45 M net  sell, dengan broker  Citigroup  securities Indonesia yang melakukan penjualan sebanyak   42,137  lot average harga 9,306 dan disusul oleh UBS Securities Indonesia sebanyak  25,186  lot dengan average harga di  9,382. Dengan data diatas diharapkan agar mencoba untuk melakukan strategi  Buy On Weakness  di level dibawah harga average jual ini.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana melakukan pembelian kembali saham perseroan (buyback) sekitar 1,53% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Periode pelaksanaan buyback dilakukan pada 10 Maret 2014-9 Juni 2104. Untuk melaksanakan buyback ini, perseroan menyiapkan dana sekitar Rp
428,33 miliar. Dana buyback ini berasal dari saldo laba yang belum dicadangkan senilai Rp 1,61 triliun pada 31 Desember 2013. Pembelian kembali saham Perseroan akan dilakukan dengan harga lebih rendah, atau saham dengan harga penawaran yang terjadi sebelumnya. Perseroan pun telah menunjuk PT Danareksa
Sekuritas untuk melakukan pembelian kembali saham.

PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk memperkuat segmen ketenagalistrikan disamping bisnis utamanya batubara. Pada tahun 2014, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini akan menjual listrik ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero) sebesar 220  -  250 megawatt (MW). "Sejak tahun 2013, kami sudah menjual listrik kepada PLN, Kami bukan hanya terpaku pada bidang batubara tetapi usaha lain yakni energi listrik," kata Direktur Utama PT Bukit Asam (Persero) Tbk, Milawarma, dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode 2014  -  2016 antara PT Bukit Asam (Persero) Tbk dengan Serikat Pegawai Bukit Asam di Jakarta (11/3/2014).



Tidak ada komentar: